Metodologi ilmu-ilmu baru yang telah dikaji. Metodologi jugasering digunakan

Metodologi Soft System Thinking”

 

A.    
Pengertian Metodologi

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Metodologi berasal dari kata “metode”
yang berarti suatu cara yang harus dilalui atau 
yang akan dilewati untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan.
Sedangkan pengertian metodologi secara umum adalah suatu cara yang akan
ditempuh untuk mencari kebenaran dari suatu realita yang terjadi di lapangan,
dengan menggunakan teknik-teknik atau 
tata cara yang sudah terstruktur untuk memperoleh suatu kebenaran serta
mendapatkan ilmu-ilmu baru yang telah dikaji.

Metodologi jugasering digunakan oleh mahasiswa
untuk meneliti sebuah realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ataupun
hal-hal yang lainnya dengan tujuan memperoleh ilmu-ilmu yang nantinya akan
tersalurkan atau di bagikan kesemua orang untuk menempuh studi (gelar strata 1)
dan mewujudkan peran mahasiswa yaitu sebagai kaum intelektual. Metedologi
penelitian yang sering digunakan oleh mahasiswa adalah metodologi penelitian
kualitatif dan metodologi penelitian kuantitatif.

 

B.    
Pengertian Soft System Thinking

Soft system thinking merupakan suatu
pendekatan dalam berfikir sistem untuk memecahkan suatu masalah yang kompleks,
tidak terstruktur dan belum terdefinisi dengan baik atau belum jelas. Soft
system thinking memiliki ruang lingkup dari aktivitas-aktivitas manusia yang
kurang jelas ( ambigu) dan belum pasti kebenarannya. Sehingga proses dari soft
system thinking harus memperhatikan dari berbagai aspek sosial yaitu aspek politik,
aspek budaya, aspek psikologi, aspek etika(perilaku) dan aspek estetika
(keindahan).

 

C.    
Pendekatan Soft System Thinking

Adapun pendakatan dari soft system thinking
adalah sebagai berikut:

1.      Dilihat dari definisi model

Pendekatan soft system thinking merupakan suatu cara yang mengkaji serta
memperdebatkan suatu permasalahan dan memberikan suatu wawasan atau pengetahuan
tentang dunia nyata (real world) dengan memperhatikan berbagai aspek-aspek
sosial.

2.      Dilihat dari definisi masalah

Masalah dari pendekatan soft system thinking bersifat ambigu (belum jelas)
dan juga banyanya tujuan.

3.      Dilihat dari perilaku dan organisasi

Pendekatan soft system thinking dilihat dari perilaku dan organisasi
merupakan bagian dari sebuah sistem yang memperbaharui untuk dipersatukan dari
model pendekatan soft system thinking.

4.      Dilihat dari data

Pendekatan soft system thinking dilihat dari data kualitatif (data yang
dinyatakan dalam bentuk kata-kata) contohnya dari kondisi suatu masalah.

5.      Dilihat dari Tujuan

Pendekatan soft system thinking dilihat dari tujuannya adalah untuk
memperoleh wawasan (ilmu pengetahuan) dari permasalahan yang telah dipecahkan
atau terselesaikan dan juga memperoleh pembelajaran.

6.      Dilihat dari Hasil

Pendekatan soft system thinking 
dilihat dari hasil yang akan didapatkan berupa perkembangan atau
kemajuan dari suatu kelompok peneliti.

 

D.    
Metodologi Soft System Thinking

Medotologi soft sistem thinking merupakan
suatu cara untuk mengkaji atau meneliti suatu realita atau permasalahan yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat atau permasalahan dari aktivitas-aktivitas
manusia itu sendiri yang bersifat ambigu, belum terdefinisi ataupun tidak
terstruktur. Dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah tersebut dengan
memperoleh wawasan atau ilmu-ilmu baru serta pembelajaran.

Dasar dari metodologi soft system thinking
muncul berawal dari partisipasi seseorang untuk memecahkan suatu persoalan yang
terjadi  yang sebelumnya menggunakan
pendekatan cara berfikir sitsem.Seseorang tersebut akan merasa bahwa suatu
permasalahan harus diselesaikan dan ditemukan apa-apa saja penyebabnya dengan
tujuan untuk memperbaikinya. Metodologi soft system thinking juga cocok untuk
membantu suatu organisasi dalam menjelaskan tujuan yang harus dicapai dengan
merancang aktvitas-aktivitas manusia untuk berkinerja lebih baik lagi.
Metodologi soft system thinking muncul diawali dengan pemikiran dari system
thinking yaitu dapat dipercaya bahwa system thinking merupakan kerangka berfikir
yang konseptual dan melihat permasalahan secara utuh (holistik). Sehingga
metodologi soft system thinking ini dikembangkan oleh Peter Checkland pada
tahun 60-an di Universitas Lancaster di Inggris dan hingga perkembangannya
sampai sekarang.

Tujuan dari metodologi soft system thinking
ini diharapkan dapat menemukan serta menjelaskan asumsi-asumsi untuk memecahkan
suatu permasalahan yang terjadi. Adapun langkah dasar metodologi soft system
thinking untuk memulai pengklarifikasian suatu masalah yang tidak terstruktur,
belum terdefinisi dan masih ambigu adalah sebagai berikut:

1.       
Langkah pertama adalah memahami situasi masalah yang terjadi bersifat
problematik.

2.       
Langkah kedua adalah menggambarkan situasi masalah yang terjadi.

3.       
Langkah ketiga adalah menentukan sistem aktivitas yang relevan dengan
melihat situasi masalah yang dihadapi.

4.       
Langkah keempat adalah mengembangkan model dan membangun model konseptual
berdasarkan sistem aktivitas yang relevan dengan melihat situasi masalah yang
dihadapi.

5.       
Langkah kelima adalah mengamabil tindakan 
untuk melakukan perbaikan dengan membandingkan model konseptual
berdasarkan sistem aktivitas yang relevan dengan melihat situasi masalah yang
dihadapi dengan model yang menggambarkan situasi masalah yang terjadi.

6.       
Langkah keenam adalah mengambil tindakan untuk melakukan perbaikan dengan
melakukan perubahan yang diinginkan dan layak digunakan secara sistematis.

7.       
Langkah ketujuh adalah melalukan tindakan untuk memperbaiki situasi masalah
yang terjadi.

Jadi manfaat yang didapatkan dalam memecahkan
suatu masalah dengan menggunakan metodologi soft system thinking adalah sebagai
berikut:

1.    Masalah yang terjadi dapat terselesaikan
dengan real.

2.    Mendapatkan wawasan atau ilmu pengetahuan dan
pemebelajaran baru.

3.    Dapat memperbaiki suatu permasalahan yang
terjadi menjadi lebih baik lagi.

4.    Mendapatkan data sesuai dengan kebenaran di
dunia nyata (real world).

5.    Perubahan yang dilakukan dapat bersifat
sistematis dan dapat diimplementasikan.

6.    Mengatuhui tujuan yang akan dicapai.

7.    Didalam organisasi atau perusahaan dapat
membantu dalam memperbaiki kinerja karyawan untuk mencapai sebuah tujuan yang
diinginkan.

 

E.     
Studi kasus”Analisis Penanggulangan Banjir di Samarinda Dengan
Menggunakan Metodologi Soft System Thinking”

 

1.    Kondisi Umum Lingkungan

Banjir merupakan permasalahan yang sering terjadi di
kota-kota besar terutama di Samarinda. Curah hujan yang tinggi kerap kali
disalahkan sebagai penyebab terjadinya banjir. Namun masyarakat tidak melihat
bahwa permasalahan banjir itu datang karena ulah mereka sendiri. Kurangnya
kepedulian terhadap lingkungan sekitar menjadi salah satu penyebab terjadinya
banjir. Seperti halnya membuang sampah sembarangan, tidak adanya kontribusi
masyarakat untuk membersihkan sekitar selokan di daerah rumahnya itu sendiri. Dan
juga kurangnya kebijakan dari Pemerintah untuk menanggulangi banjir tersebut.
Walaupun beberapa kali Pemerintah melakukan tindakan untuk menagatasi
permasalahan banjir yang susah diselesaikan seharusnya ada tindakan juga dari
masyarakat Samarinda untuk sam-sama mengatasi permasalahan banjir demi untuk
kebaikan kita bersama.

 

 

2.    Gambaran Situasi Yang Terjadi Dalam Penanggulangan
Banjir di Samarinda

Gambaran situasi penanggulangan banjir di Samarinda dapat
dilihat dari media masa ataupun observasi ketempat yang sudah dilakukan
penanggulangan banjir.

Adanya anggaran dana untuk menangani banjir di Samarinda yang dibiayai
melalui multiyears contract (MYC) dari APBD. Namun pada tahun 2017 adanya
keterbatasan anggaran dana untuk menangani banjir sehingga penanganan yang
dilakukan hanya pada satu titik yang sering terjadinya banjir yang akan di
tangani. Banjir yang seharusnya segera ditangani adalah pada titik yang rawan
banjir yaitu persimpangan antara Jl. KH Wahid Hasyim Sempaja, Jl. AW Sjahranie
dan Jl. PM Noor.  Untuk di jalan yang
juga rawan banjir yakni Jl. Pangeran Antasari Gang Indra dan Jl. DI Panjaitan
akan ditangani secara parsial. Penangangan banjir di Jl. Pangeran Antasari
sudah ada Bendungan Pengendali (Bendali) HM Ardans. Penangan banjir secara
parsial ini, menurut wakil wali kota Samarinda Nusyriwan Ismail  tidak lepas dari master plan untuk
merencanakan penangan banjir yang sangat maksimal.

Pada pengesahan APBD Samarinda 2017, terdapat Rp. 375
miliar untuk program penanggulangan banjir dengan skema MYC hingga 2020.
Anggaran ini difokuskan untuk mengatasi banjir di Jl. KH Wahid Hasyim dan Jl.
DI Panjaitan. Selain itu, Pemerintah 
Kota Samarinda bersama Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur terus
melakukan perbaikan drainase yang tersebar di kota. Ada pula, dukungan
pemerintah pusat melalui Badan Wilayah Sungai Kalimantan III Kaltim-Kaltara
pada tahun ini akan normalisasi Sungai Karang Mumus dengan membangun turap dan
penggalian sedimen waduk benanga, untuk sebagai penanganan banjir di Samarinda.
(Bisnis.com SAMARINDA 20/01/2017). Untuk perbaikan drainase juga terjadi di Jl.
Pramuka – Jl. Perjuangan dengan tujuan untuk menangani banjir yang terjadi.
(observasi 15/11/2017). Perbaikan drainase juga dilakukan di Jl. Sempaja dan
juga Jl. Mugerejo dengan tujuan untuk mencegah serta mengatasi banjir.
(observasi 15/11/2017).

 

 

 

 

 

3.    Rich Pictures Kegiatan Penanggulangan Banjir
di Samarinda dan Pencegahan Yang Dilakukan

PEMDA/PEMKOT

MASYARAKAT

 

 

 

 

 

KERJA BAKTI

Kecamatan

Ketua RT

Kelurahan

Mengeluarkan Kebijkan dan Melakukan
Tindakan

                               

 

 

 

 

 

 

 

 

  Keterangan:

Biru           : Penanggulangan banjir

Merah       : Pencegahan terjadinya
banjir

 

 

 

 

 

 

4.     
Akar Definisi
Pemasalahan Banjir di Samarinda

 

Pemerintah Kota:
Seharusnya menegaskan atas kebijakan untuk mencegah terjadinya banjir.
Melakukan tindakan dalam penanganan banjir secara maksimal.
 

TRANSFORMASI:
Penanganan atau penanggulangan banjir secara maskimal.

Masyarakat:
Kurangnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Membuang Sampah sembarangan.
Kurangnya kerja bakti untuk merbersihkan lingkungan di sekitar gang
(hanya menunggu penanganan dari pemerintah).
Tidak memperdulikan kebijakan dari permerintah
 
 

Input:
Penanggulangan banjir di Samarinda secara maksimal.

Proses:
Transformasi mekanisme Penanggulangan banjir serta pencegahan
terjadinya banjir secara maksimal.

Output:
Penanganan banjir di Samarinda dapat terselesaikan secara maksimal

ROOT DEFINITION:
Transformasi mekanisme penanggulangan atau penanganan
banjir dan pencegahan terjadinya banjir secara maksimal dengan menjalin
kerjasama antara kebijakan atau tindakan yang dilakukan pemerintah dengan
masyarakat dapat berjalan secara maksimal untuk dapat menyelesaikan
permasalahan banjir di kota Samarinda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            

 

 

 

 

                                                          

 

 

 

5.      
ModelKonseptual Perbandingan Dengan Situasi Permasalahan, Perubahan Yang
Diinginkan Dan Rekomendasi Tindakan

 

5.1  Modal Konseptual

Buat Laporan

Lakukan Perbaikan

Langkah 1 dan 5

Tetapkan Kriteria

1) Pememerintah kota mengeluarkan kebijakan
untuk penanganan banjir

Implementasikan mekanisme penanggulangan
dan pencegahan secara maksimal

2) Pemerintah Kota melakukan tindakan untuk
mengatasi banjir

3) Masyarakat menjaga kebersihan lingkungan
sekitar dan melaksanakan kebijakan yang pemerintah buat

4) Masyarakat melakukan kerja bakti untuk
mencegah terjadinya banjir

5) Mengelola Transformasi mekanisme
penanggulangan dan pencegahan banjir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.2  Model Konseptual Transformasi Penanggulangan
Banjir dan Pencegahan Terjadinya Banjir

Permasalahan Banjir di Samarinda dapat terselesikan.
Masyarakat dapat hidup tenang.
Aktivitas-aktivitas pemerintah maupun masyarakat tidak terganggu.
 
 
 

Koordinasi, kerjasama, dan keberlanjutan
mekansime penanggulangan banjir dan pencegahan terjadinya banjir
 
 
 
 
 
 

PEMDA/PEMKOT

Kecamatan

Kelurahan

Ketua RT

Masyarakat

Mengeluarkan Kebijakan Dan melakukan tindakan
untuk menangani permasalahan banjir

KETUA RT

KELURAHAN

KECAMATAN

MASYARAKAT

KERJA BAKTI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Biru        : Penanggulangan Banjir

Merah   : Pencegahan Terjadinya Banjir

Ø 
Perubahan yang diinginkan adalah:

1.      Terselesaikan permasalahan banjir dengan
menggunakan transformasi mekanisme penanggulangan banjir dan pencegahan
terjadinya banjir.

2.      Penanggulangan banjir di Samarinda dapat
berjalan secara maksimal.

3.      Koordinasi dan kontribusi masyarakat dalam
mencegah terjadinya banjir.

4.      Adanya kepedulian masyarakat untuk menjaga
kebersihan lingkungan sekitar, tidak membuang sampah sembarangan, dan dapat
membersihkan area selokan minimal area selokan disekitaran rumah.

5.      Adanya kerja bakti yang diadakan oleh ketua
RT.

6.      Minimnya terjadinya banjir di Samarinda.

 

Ø  Langkah-langkah perbaikan situasi masalah:

1.      Meningkatkan koordinasi dan
mengimplementasikan secara konsisten dalam bentuk kerjasama upaya transformasi
mekanisme penanggulangan banjir dan pencegahan terjadinya banjir antara pihak
pemerintah kota/daerah dengan kecamatan. Kelurahan, kecamatan dan masyarakat.

2.      Melakukan kajian terhadap kebijakan peraturan
pemerintah.

3.      Melaksanakan tindakan dalam menangani
permaslahan banjir secra maksimal seperti melakukkan penanggulangan dengan
memperbaiki drainase yang rawan banjir atau diadakan bendungan.

4.      Menjalin hubungan dengan masyarakat untuk
melaksanakan kebijakan perarturan pemerintah yang telah dibuat agar mencegah
banjir secara bersama-sama.

5.      Menegaskan dalam menangani maupun mencegah
terjadinya banjir.